SEJARAH KABUPATEN MAMASA
SEJARAH KABUPATEN MAMASA
Sejarah dan Asal-Usul :
Nenek Moyang: Cerita rakyat menyebutkan nenek moyang suku Mamasa berasal dari perpaduan "Nene' Torije'ne" (dari laut) dan "Nenek Pongkapadang" (dari timur pegunungan Sa'dan/Toraja). Mereka bertemu di daerah Buntu Bulo, Tabulahan.
Asal Nama: Nama Mamasa diyakini berasal dari kata Mamase (penuh kasih), merujuk pada "Lembang Mamase" yang diberikan oleh Nenek Dettumanan karena lembah ini penuh kasih dan mudah mendapatkan hasil buruan.
Wilayah Kondosapata: Masyarakat Mamasa dikenal juga sebagai masyarakat Kondosapata (penjuru segi empat) yang memiliki sistem adat sosial.
Perkembangan Wilayah dan Agama
Kolonial Belanda: Belanda menyebut wilayah ini sebagai Toraja Barat.
Penyebaran Kristen: Misionaris Belanda memulai penyebaran Injil di Mamasa pada awal tahun 1900-an (sekitar 1912-1913) oleh GPI (Gereja Protestan Indonesia) dan kemudian oleh CGK.
Kabupaten Mandiri: Awalnya, Mamasa merupakan bagian dari Kabupaten Polewali Mamasa (polman). Pada tahun 2002, berdasarkan undang-undang pemekaran, Mamasa resmi menjadi kabupaten mandiri, terpisah dari Polewali Mandar.
Kebudayaan dan Rumah Adat
Rumah Adat (Banua): Terdapat beberapa jenis rumah adat Mamasa, di antaranya Banua Layuk (rumah pemimpin/bangsawan), Banua Sura (rumah ukir), dan Banua Bolong (rumah hitam).
Adat Mappurondo: Selain Kristen, sebagian masyarakat juga menganut tradisi adat Mappurondo, yaitu kepercayaan lokal yang diwariskan turun-temurun, terutama sebagai wujud syukur setelah panen padi.
Kabupaten Mamasa adalah satu-satunya wilayah di Sulawesi Barat yang tidak memiliki garis pantai, terletak di dataran tinggi.

Comments
Post a Comment